September 2, 2011
Jenuh juga pada akhirnya melihat logika pejabat negeri ini… Contoh sederhana, upacara selalu dikaitkan dengan kinerja karyawan. Kinerja seseorang harus dan hanya dapat diukur dari hasil kerja kekaryaannya. Kinerja itu justru akan sangat terganggu ketika pejabat mengidap perilaku kolusi, korupsi, dan nepotisme yang saat ini masih mewabah-berat di semua lini birokrasi negara yang sarat bakteri kebohongan ini. Tidak ada satu negarapun yang masuk kategori maju karena masyarakatnya rajin upacara, apatah-lagi upacara yang tanpa makna dan hanya menjadi ajang show-off para pejabat terasnya, ajang cuap-cuap menyampaikan pidato berbiaya mahal. Negara maju hanya bisa diwujudkan dengan cara menihilkan birokrasi pemerintahan negara dari pejabat yang berpenyakit KOLUSI-KORUPSI-NEPOTISME. Inilah hakekat reformasi birokrasi!
Berkolusi umumnya berbentuk mengutak-atik proyek, hitung sana-sini, analisis ini-itu, pasang strategi kibul sana kibul sini, atur sana atur sini, yang kata kuncinya win-win solution sesama pejabat beserta rekan kolusi-nya yang hampir semuanya tidak lain adalah para bakteri di lingkaran keluarga, lingkaran persahabatan, lingkaran mafioso sang pejabat. Gumpalan kroni-isme itu bisa bersifat sesaat, namun lebih sering dapat bertahan cukup lama tergantung pada aturan baku: sesama kolusor tidak boleh saling menggosok, saling menyikut, apalagi saling menipu. Apa kata Anda jika paman-istri-suami-anak, atau yang sejenis kelamin dengan itu menunggui luncuran proyek di kantor ponakan-suami-istri-ortunya? Hasilnya sudah dapat ditebak, proyek abal-abal melintas di sepanjang katulistiwa.
Korupsi? Ah, itu bukan barang baru di negeri yang konon penuh manusia beragama ini. Hebatnya, korupsi biasanya berjalan seiring dengan sepupu dekatnya, kolusi. Jadilah marak di hampir semua kantor pemerintah Indonesia, korupsi berjamaah lancar tuntas berjalan tak terbendung! Uniknya, trend itu berlaku bak budaya suci warisan nenek moyang yang harus diimplementasikan setiap saat oleh para pejabat penyelenggara birokrasi negara, dipimpin langsung oleh para dedengkot pejabat-pejabat teras level eselon 1 di kantor-kantor pusat di Jakarta sana. Apa kata Anda jika pejabat buat acara buka puasa bersama di kediamannya menggunakan uang APBN? Apa kata Anda jika untuk satu proyek di Kementrian Pertahanan sana harus setor 20 persen ke pejabatnya? Apa kata Anda jika pejabat memperbanyak proyek perjalanan dinas yang sesungguhnya tidak perlu? Hasil perilaku koruptif itu dengan mudah bisa ditebak! Bukan lagi kebocoran anggaran negara, tapi kas negara amblas-blas, tuntas-tas tak bersisa, dengan meninggalkan buah karya fantastis: kemiskinan melanda rakyat di mana-mana.
Nepotisme. Aha, mahluk paling susah diberantas. Tentu tidak salah jika anak-cucu-menantu-paman-bibi-suami-istri-kakek-nenek-dan gerombolannya diakomodasi di perusahaan keluarga yang penggajiannya menggunakan uang keluarga juga. Masalahnya menjadi amat menyakitkan jika uang yang dikumpulkan dari rakyat miskin di kolong-kolong jembatan, rakyat miskin di pinggiran kota kumuh, nelayan berkain compang-camping di ganas gelombang lautan, rakyat papa tinggal tulang dibalut kulit di seantero ibu pertiwi, digunakan untuk menggaji anak-cucu-menantu-paman-bibi-suami-istri-kakek-nenek-dan gerombolannya itu. Duh! uang negara yang dihimpun dari duka nestapa rakyat digunakan untuk menggaji pegawai kantor yang terjaring masuk pegawai karena "hubungan kekeluargaan" ala Indonesia, yang kualitas kerjanya buruk. Bahkan, lebih miris lagi ketika Anda tahu alokasi uang negara untuk peningkatan kualitas pegawai digunakan untuk membiayai kuliah si anak pejabat yang bukan pegawai di kantor bersangkutan! Betapa hati telah berubah menjadi hitam-kelam…
Oleh karena itu, dihimbau kepada sesiapa saja orang Indonesia, jangan menanam harapan terlalu tinggi untuk mendapatkan kebaikan dari negara ini, kuatir Anda mati mendadak akibat penyakit stress akut memendam kekecewaan berat. Bagaimana tidak, wakil-wakil Anda di parlemen di senayan itu jelas tidak akan mampu melaksanakan amanat yang diberikan rakyat. Pada satu sisi mereka dikerangkeng sistem, pada sisi lain lembaga pendukung sistem parlemen Indonesia dipimpin oleh pejabat yang berlogika "Indonesia banget!, alias pejabat PNS bungul bin goblok! Berharap dari lembaga penyelenggara pemerintahan lainnya yang ada? Ah, bercanda… bahkan dari institusi kepresidenan-sekalipun Anda lebih tahu!
May 3, 2010
Tuk: Anakku terkasih, buah jiwaku
Jika saja engkau mengenalku,
tapi itu tiada khan pernah terjadi…
waktuku hampir usai
Kuurai noktah yang tersisa malam ini
bersama kalam yang tak lagi senyum
sadari jiwa yang semakin membeku
pada setapak yang semakin rapuh
Duhai anakku, gadis serpihan jiwaku…
di onak berduri sentiasa kulalui sepanjang hayatku
bersama asa peneduh kalbu
pelindung pikir di pahit getirnya nasib pengembara
Kini, kusadari juga adanya
kusam jalanan tiada kan berganti
terjal binal telusuran hidup tiada jua khan berakhir
gelap kelam tiada kunjung berpaling
lafaz dan doa tiada lagi bermakna asa
Anakku, engkau berubah begitu cepat
hempaskan sudah nama tiada berguna ke lembah sengsaraku
biaskan arti pada tanda kekekalan kata
bahwa hariku sudah dekat
Selamat jalan Anakku,
biarkan aku rebah tersungkur di guratan nubuatan ini…
selamanya.
malam kelabu, 3 mei 2010
titian waktu 11:03 wib
April 21, 2010
Tux: Anak Perempuanku
Maafkan…
tapi hidup memang untuk belajar meniti kematian
tapi jalanan memang tak selalu melandai hingga ke peraduan
tapi hitungan memang selalu datang tak terduga
Maafkan…
jika waktu harus berputar lebih awal
jika kuasaku tak lagi menjamah tirai pelindung makna
jika kata sudah hilang pada luka yang terlalaikan
Kini…
aku terjajar di batas bayang kalam cita
aku terdiam dalam bejana panas mengelupas jiwa
aku tergagap dalam pandang nan kosong hampa
Hingga akhirnya…
kesadaran sabda alam memenuhi rongga kalbu
menyesakkan nafas yang tersia-sia
pada penghujung firman
ia berujar: belajarlah melepas kematiannya!
Gadisku, buah hidupku…
airmata tak lagi berarti tangis
seumpama gelak tak lagi bermakna sukacita
Disini, di gerbang nisan titian masa
perkabungan dalam duka dan nestapa tiada khan pernah usai
menyisir segala waktu di sisa usiaku yang semakin senyap
Jakarta, 21 April 2010
Menara gading kenangan mayapada, 20:01wib
Saintlover, pecundang yang terkapar tak berdaya
April 14, 2010
Bicara tentang Nusantara masa lalu, hampir selalu akan terbawa dua kata ini: Belanda dan Kompeni. Penjajahan Belanda atas Indonesia selama ratusan tahun itu adalah sesuatu yang tidak mudah luntur dan memang tiada akan pernah terhapuskan dari ingatan sejarah anak-anak negeri. Sebut saja, ketika disodorkan potret-potret kota dan gedung di Belanda, seorang teman Indonesia akan serta-merta mengatakan bahwa semua perolehan kemajuan pembangunan bangsa Belanda tidak lain adalah hasil “merampok” kekayaan nusantara di jaman lampau. Seorang yang lain lagi menimpali bahwa bahkan beberapa kota di Belanda seperti Amsterdam dan Rotterdam, konon katanya merupakan hasil menimbun laut dengan memanfaatkan hasil alam Indonesia di masa penjajahan itu. Pada lain kesempatan, ketika membicarakan keadaan Indonesia yang terpuruk-puruk sejak jaman merdeka hingga kini, sebagian pemikir bangsa kita percaya bahwa itu semua tidak lepas dari akibat sifat genetik “mental kuli” rakyat jajahan bentukan Belanda diera perbudakan yang tidak mungkin dirubah dalam dua tiga generasi.
Itulah sekelumit gambaran sederhana bagaimana rakyat Indonesia melihat dirinya, berkaca pada sejarah gelap masa kolonialisme Belanda di tanah air yang berlangsung lebih dari 300 tahun. Secara historis, kenyataan sejarah bangsa menjelaskan bahwa sejak perusahaan milik pemerintah kerajaan Belanda bernama Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) masuk ke nusantara tahun 1602, dimulailah masa kelam itu: penguasaan bangsa kulit putih atas nenek moyang bangsa Indonesia. Monopoli dagang dengan harga sangat rendah atas hasil rempah-rempah rakyat kemudian dijual di pasar eropa dengan harga berpuluh-puluh kali lipat adalah strategi umum yang dilancarkan VOC. Perekrutan dan pengangkutan manusia Indonesia dari tanah leluhurnya ke daerah lain, baik antar pulau di nusantara untuk jadi kuli perkebunan Belanda, atau diangkut ke Belanda dan wilayah Eropa lainnya untuk jadi budak belian, atau sebagai kuli rendahan di kapal-kapal Belanda, hingga dibawa ke Suriname, menjadi hal lumrah.
Peristiwa perang yang memakan ratusan ribu korban rakyat Indonesia yang hanya memiliki peralatan militer tradisional seperti tombak, parang, bambu runcing, dan lain-lain yang jelas jauh tidak seimbang dengan persenjataan Kompeni Belanda, merupakan pengalaman panjang sejarah gulita kakek-nenek orang Indonesia. Pembantaian manusia, yang dalam kamus masa kini dikategorikan sebagai genosida, juga acap kali terjadi menimpa ribuan rakyat. Ada juga diantaranya kaum pedagang Inggris, Portugis, dan Spanyol, pesaing Belanda saat itu yang jadi korban kebrutalan VOC. Kisah tragedi pelayaran Hongi di kepulauan Maluku dan Banda adalah contoh tindakan genosida yang dilakukan penjajah yang akan selalu aktual hingga kini. Sebuah laporan mengisahkan pembunuhan rakyat Banda yang terjadi pada 8 Mei 1621, yang ditulis oleh Letnan (Laut) Nicholas van Waert, antara lain menyebutkan “Para pemimpin Banda dipenggal kepalanya kemudian tubuh mereka dibelah empat. Setelah itu menyusul 36 orang lainnya, yang juga dipenggal kepalanya dan tubuhnya dibelah empat. Eksekusi ini sangat mengerikan untuk dilihat. Semua tewas tanpa mengeluarkan suara apa pun, kecuali satu orang yang berkata dalam bahasa Belanda “Tuan-tuan, apakah kalian tidak mengenal belas kasihan”, yang ternyata tidak ada gunanya.” Laporan ini dikutip oleh Willard A. Hanna dari “De Verovering der Banda-Eilanden,” Bijdragen van het Koninklijke Institut voor de Taal-, Land-, en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie, Vol. II (1854), hlm. 173.
Itulah, beberapa contoh kekejaman manusia penjajah atas manusia lainnya, eksploitasi manusia tanpa rasa kemanusiaan demi uang dan harta membangun negerinya, membangun The Netherlands. Hal itu berlanjut dan bahkan lebih parah, ketika pemerintah Belanda mengambil alih tugas usaha perdagangan dan ekonomi dari tangan VOC ditahun 1799. Belanda kemudian justru tidak hanya berfungsi sekedar “pedagang” tetapi membangun sebuah pemerintahan kolonial di tanah air yang dilegitimasi oleh negara-negara “sahabatnya” sesama penjajah lainnya. Kebijakan pemerintahan yang didukung oleh satuan militer telah menyengsarakan rakyat sejak jaman Gubernur Jendral Daendels, Van den Bosch, dan penerusnya. Seperti semua tahu, penderitaan dibawah bendera penindasan oleh penguasa kolonial Belanda baru berakhir ketika Perang Dunia ke-2 dimulai.
Pada masa kini, muncul pertanyaan-pertanyaan ensensial yang berkaitan dengan persoalan kolonialisme; bagaimanakah seharusnya dunia, khususnya Indonesia sebagai salah satu korban penjajahan, menyikapi kenyataan sejarah “kotor” penjajahan itu? Adakah ajaran etika yang bisa digunakan untuk menganalisa dan mengambil tindakan semestinya atas kekejaman penjajah dimasa silam? Ataukah kita cukup berdiam diri, berpangku tangan, dan melupakan saja kejadian keji dari bangsa satu terhadap bangsa lainnya?
Dalam kajian philosophy, etika diartikan sebagai sebuah rasionalisasi atas doktrin moral yang ada pada masyarakat. Manusia tercipta dengan membawa nilai-nilai yang menjadi panduan sekaligus ukuran dalam menentukan baik-buruknya sebuah sikap dan tingkah-lakunya selama dia hidup. Ketika nilai-nilai moral dimaksud direnungkan, dicerna dengan akal pikiran, dianalisa dari berbagai sudut pandang, maka hasil pemikiran menggunakan rasio tersebut dinamai etika. Etika itu kemudian digunakan untuk mengukur dan menjustifikasi sikap dan tindakan manusia, baik untuk masa lalu, dimasa kini, maupun kemasa depan.
Kembali ke persoalan penjajahan Belanda atas Indonesia; adakah elemen etika yang dapat membenarkan atau menjustifikasi keberadaan Belanda dengan berbagai kebijakan dan kekejamannya di tanah air Indonesia di masa lalu? Ketika bangsa itu datang dan mengambil manfaat atas kekayaan alam, berdagang dengan todongan senjata, membunuhi rakyat, menarik upeti dan pajak, kerja paksa tanpa upah, jual-beli budak, dan kekejian lainnya pada masa lalu, bolehkah kita yang hidup di masa kini membiarkannya berlalu begitu saja? Atau dengan pertanyaan sederhana: apakah kita sebagai generasi saat ini, masih dapat dikatakan beretika dan bermoral ketika membiarkan saja sejarah kelam itu berlalu tanpa melakukan sesuatu untuk “memperkarakannya”? Pertanyaan terakhir inilah sesungguhnya yang menjadi inti kajian dalam tulisan ini. Benarkah sikap dan tindakan bangsa Indonesia saat ini yang mendiamkan saja coretan hitam sejarah kolonialisme Belanda itu?
Menurut philosopher Inggris, John Lock (1632-1704), ketika seseorang mengambil hak milik orang lain tanpa didasari oleh nilai dan pertimbangan moral yang benar, maka perbuatan itu adalah sebuah kesalahan atau dosa. Prinsip tersebut diamini oleh hampir seluruh umat manusia di bumi ini. Oleh karena itu, penjajahan dikecam dimana-mana dan hampir pasti tidak ada satu bangsapun lagi yang masih hidup sebagai bangsa terjajah hari ini. Bangsa-bangsa yang dulunya berperan sebagai penjajahpun sudah menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka adalah sesuatu yang salah. Tidak dapat dibenarkan, baik oleh standar moral saat itu apalagi dengan standar nilai-nilai humanisme yang menjadi tren masa kini.
Persoalannya, adakah kita sudah beretika jika telah sampai pada kesimpulan bahwa penjajahan adalah sebuah kesalahan dan dosa? Dalam konteks ini, tentunya dosa yang dimaksudkan merupakan dosa kolektif atas kelompok masyarakat lainnya. Masih menurut John Lock, ketika sebuah tindakan mengambil alih hak kepemilikan dari seseorang secara tidak adil, maka pada saat hal itu disadari, kesalahan itu harus dikembalikan kepada kondisi yang dapat dibenarkan oleh moralitas kemanusiaan kita. Lockean proviso, istilah etika filsafatnya Robert Nozick (1938-2002) yang dikembangkan dari pemikiran John Lock, memberikan jembatan penghubung sebagai jalan keluar bagi “membenarkan” sebuah kesalahan di masa lalu menjadi sesuatu yang dapat diterima secara bermoral dimasa kini. Kegiatan “membenarkan” atau “mengadilkan” tersebut dapat ditempuh dengan cara mengembalikan hak kepemilikan yang didapat secara immoral itu kepada sipemilik awal atas hak dimaksud.
Penjajahan Belanda merupakan salah satu yang terburuk dalam sejarah peradaban manusia. Membandingkannya dengan bangsa penjajah lainnya seperti Inggris, kesengsaraan akibat kolonialisme Belanda terhadap Indonesia hampir tidak dapat dimaafkan. Banyak orang heran, bagaimana generasi bangsa penjajah (Belanda) saat ini dapat hidup tenang tanpa beban ketika mereka menikmati kemakmuran negerinya yang jelas-jelas merupakan hasil merampok bangsa lain dimasa lalu. Dihasilkan oleh tangan-tangan kotor berdarah nenek moyang mereka. Ibarat makan, bagaimana tidak berhatinya generasi Belanda ketika makan dengan lahap hidangan yang tersedia, sementara dia tahu bahwa makanan yang disantapnya itu adalah hasil yang diperoleh atas derita bangkai-bangkai manusia tak berdosa beratus tahun lalu. Inggris dan negara penjajah lainpun tidak luput dari keadaan ini.
Mungkin agak naif jika kita hanya melihat kemakmuran bangsa-bangsa kulit putih mantan penjajah itu hari ini. Sebab mungkin saja, hasil yang mereka capai di abad moderen sekarang adalah memang hasil kerja keras mereka sendiri semasa hidupnya. Bukan didapatkan dari warisan nenek moyangnya yang telah melakukan penjajahan dimasa lalu. Dalam teori ekonomi dikenal istilah “kapital” yang berwujud modal, gedung, sumber daya alam, sumber daya manusia, dan uang. Ketika sebuah perusahaan memiliki kapital yang lebih besar dari perusahaan pesaingnya, kecenderungan kekuatan ekonomi akan berpihak kepada pemilik modal yang lebih besar. Pada kebanyakan kasus, perusahaan modal kecil justru semakin lemah dan akhirnya mati. Pameo inipun sudah jamak di mata kita dan dunia: “yang kaya makin berjaya, yang miskin makin melarat.”
Masa penjajahan adalah saat-saat panen raya bagi bangsa Belanda dan kapital yang terkumpul itu menjadi modal dasar pembangunan masyarakat dan negaranya hingga saat ini dan tentunya kemasa depan. Dan sebagaimana fenomena ekonomi tadi, mereka akan makin kaya, sementara Indonesia akan makin terpuruk. Di masa penjajahan, bangsa-bangsa Eropa melakukan pembangunan manusianya melalui penelitian dan pengembangan ilmu dan teknologi. Semua itu dapat dilakukan dengan memanfaatkan dana hasil merampok tanah jajahannya. Pembangunan dan pengembangan pendidikan yang mereka laksanakan itu tidak mungkin berjalan mulus ketika tidak didukung oleh pembiayaan yang memadai. Untuk membiayai pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi itulah mereka gunakan uang hasil menguras kekayaan alam dan tenaga-tenaga budak dari negeri-negeri terkebelakang seperti Indonesia dan negara-negara jajahan lainnya di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Pada sisi ini, mereka termasuk cerdas, menggunakan dana rampasan tanah jajahan untuk membangun masyarakatnya menjadi manusia berkualitas tinggi.
Melalui alur pemikiran di atas, dapat dibangun sebuah logika berpikir: pada masa kemerdekaan di tahun 1945, keadaan masyarakat Belanda dan Indonesia ibarat antara langit dan bumi perbedaannya; mereka kaya sekali dan sumber daya manusianya sangat tinggi, sedangkan Indonesia hanya memiliki kapital berupa tanah air tanpa didukung oleh fasilitas hidup yang memadai. Dalam kondisi itu, tentu saja kedua rumpun masyarakat tidak akan dapat berkompetisi secara adil, dan itu akan tetap seperti ini sampai kapanpun, Indonesia akan terus miskin dan terkebelakang sementara Belanda akan makin makmur. Kecuali ada perubahan mendasar yang dilakukan oleh kedua bangsa itu.
Keunggulan lain yang dimiliki Belanda dalam konstelasi penjajah-terjajah adalah tersediannya kapital dalam bentuk barang harta negara, seperti fasilitas hunian, perkantoran, transportasi, gedung fasilitas umum, maupun berbentuk uang atau cadangan devisa negara. Tidak dapat diingkari bahwa selama penjajahan, kota-kota dibangun, jalan-jalan diperbaiki dan dipermoderen, gedung-gedung dilengkapi fasilitas tertata baik, dan fasilitas kebutuhan umum seperti sekolah, tempat ibadah, taman-taman, semuanya dibangun dan dikembangkan menggunakan hasil jarahan dari daerah jajahan.
Dari logika pikir seperti ini, dapat lagi dibangun asumsi bahwa ketika Indonesia mulai membangun, ia mulai dari nol, sementara Belanda, juga negara Eropa secara umum, sudah berada pada angka 500. Menariknya, ketika kita berada pada hitungan 100, Belanda sudah berada pada posisi 1000. Mengapa? Karena ia tetap melakukan penjajahan melalui modal uang dan sumber daya manusia yang dia miliki. Penjajahan fisik telah berganti ke penjajahan ekonomi, yang sejak awal Soekarno menyebutnya “neo-kolonialisme”. Membangun imperium dengan tetap menguasai Indonesia, dan negara-negara baru bekas jajahan, melalui keuangan dan ekonomi global.
Bila di masa penjajahan bisa leluasa melakukan monopoli perdagangan, di jaman modern, mereka menggunakan kapital uang yang dipinjamkan ke negara-negara baru seperti Indonesia. Hal yang wajar saja jika ada orang berkeyakinan bahwa sesungguhnya dana-dana yang dipinjamkan kepada Indonesia melalui berbagai badan finansial dunia, seperti IMF dan Bank Dunia, adalah uang hak milik nenek moyang bangsa Indonesia dan negara-negara bekas jajahan yang didapatkan Belanda dengan cara licik dan tidak bermoral melalui penjajahan. Pada kondisi perbedaan level ekonomi seperti itu, bagaimana kita boleh bermimpi untuk berada sejajar dengan tingkat kemakmuran negara penjajah seperti Belanda? Sekali lagi, harapan hanya akan terbetik ketika ada perubahan mendasar yang dilakukan kedua bangsa ini.
Realitas lain yang bisa diuraikan adalah keberadaan berbagai museum yang ada di Belanda, termasuk Inggris, Perancis, Spanyol, Portugis, dan lain-lain. Jelas-jelas, lebih dari dua pertiga isi museum-museum itu adalah benda-benda purbakala dan karya seni atau peninggalan masa silam, hasil karya generasi-generasi terdahulu yang diangkut dari negara-negara jajahan. Sekarang, orang berbondong dari berbagai belahan dunia bertandang ke negara Belanda. Salah satunya adalah mengunjungi museum itu untuk melihat hasil karya rampokan mereka dari nusantara dan negara jajahan lain. Devisa masuk ke saku negara Belanda, bukan ke saku anak-cucu siempunya benda pusaka itu. Sementara, Indonesia miskin dari peninggalan karena sudah “diselamatkan” oleh kaum kolonial. Pada kondisi ini, amat aneh jika kita berharap bisa sejajar secara ekonomi, politik, kebudayaan, dan lain-lain dengan negara Belanda/Eropa. Kecuali, lagi-lagi, bila ada perubahan mendasar yang menjadi komitmen baru diantara kedua bangsa.
Hal-hal tersebut di atas hanyalah beberapa dari banyak sisi sebagai contoh konkrit yang bisa dijadikan landasan pikir dalam menganalisa hubungan sejarah masa lalu kita sebagai negara terjajah dengan Belanda, penjajah Indonesia. Ketimpangan itu akan tetap langgeng, bahkan kekal hingga ke akhir masa, kecuali diadakan satu hal: “mengadilkan” kejahatan kolonialisme Belanda terhadap Indonesia. Inilah yang dimaksudkan dengan perubahan mendasar yang mesti ditempuh oleh kedua bangsa. Bila hal ini diabaikan, sulit untuk berharap bahwa persoalan akan selesai. Kesalahan tidak bermoral tidak beretika akan tetap berlanjut dari generasi ke generasi kedua bangsa. Bangsa Belanda tidak bermoral-beretika menikmati warisan hasil jarahan pendahulunya, juga Indonesia tidak bermoral-beretika ketika hanya berdiam diri membiarkan masa kelam pendahulunya berlalu begitu saja.
Pertanyaan yang tersisa adalah: adakah yang bisa dilakukan dalam kerangka “membenarkan” sesuatu yang salah dimasa lalu? Jawabannya: mungkin ya, mungkin tidak. Amat tergantung dari seberapa eksis nilai-nilai moralitas kemanusiaan kita, baik Indonesia terlebih lagi pihak bangsa Belanda.***
Wilson Lalengke – The Netherlands
Catatan: sedikit melenceng dari tema, maaf…
November 21, 2008
Kaki dan lutut bergoyang berirama konstan, simetris dengan kerut-kerut kulit yang semakin menebal bergelombang di dahi, disertai tingkah jari-jari tangan yang merapat merenggang satu-satu seakan sedang menghitung hari. Puuhhh…! Itulah selenting-sekilas panorama nyata yang sempat terekam pandang saat jadi pengawas ujian tengah semester mahasiswa Bina Nusantara, Jumat pagi ini (21/11). Sekira 40-an peserta berpacu dalam pikir, mengeksplorasi nalar dan logika, memompakan seluruh daya kalam ke permukaan, merambah rangkaian ingatan terdalam hingga ke dasar kerak otak kemanusiaan masing-masing.
Betapa tidak! Mata kuliah yang diujikan pagi ini bertitel berat dan menjengkelkan bagi banyak orang. Filsafat Ilmu dan Logika. Huh…!!
Dalam kesendirian mengasingkan diri duduk di bangku kosong baris paling belakang, tersandung jua catatan bayang pandangan mata ini; dan sekonyong-konyong lambaian tanya melenggang terbesit di penghujung pandang: apa sesungguhnya makna hakiki dari untaian hari ujian yang mesti dijalani golongan mahluk bernama manusia ini? Haruskan kita terbelenggu oleh sebuah paham pembelajaran yang memaketkan setiap warga belajar untuk mengikuti ujian? Tidakkah pakem pendidikan seperti itu justru melahirkan justifikasi peng-kotak-an dan peng-kooptasi-an manusia kedalam kelas dan status. Ada kelas orang pintar, kelas rata-rata, kelas bloon, kelas bungul, kelas jongos, kelas kere, dan seterusnya dan sebagainya? Bukankah kerja sistemik itu secara alamiah bermuara-merapat kepada kecenderungan pola belajar instant, sistim kebut semalam, sistim sms, lirak-lirik, nyontek, hingga catatan kaki dan jimat?
Panjang dan panjang lagi tiada berhingga rentetan tanya berkibar berkilatan menyergap mencibir ke arah binar bayang benak saya kala ini. Sialnya, setiap tanya mesti lengkap dengan kenihilan jawab yang mampu menenangkan sakit gigi yang menyerang tiba-tiba.
Namun, setidaknya melalui proses ini saya belajar menghargai dan menghormati sebuah idealisme yang diagungkan oleh umum. Dan lagi, bolehkan berbangga hati ketika tahapan ini harus bermakna sebagai ujian bagi diri sendiri sebagai dosen para generasi pembelajar ulet itu. Getaran kaki dan lutut tadi hakekatnya adalah cermin diri yang sedang galau.
Jakarta, 21 November 2008
July 19, 2008
Kudengar hiruk tadi malam
Mendekati sepertiga malam terakhir
Kudengar detak mesiu sepercik tadi malam
Sedekat lorong telinga yang senyap
Kudengar dentum seketika tadi malam
Bangunkan jiwa, hentakkan sukma, gerakkan raga
Kudengar pekik teriak tertahan tadi malam
Melempar helaan nafas yang tercekat
Kudengar kibas lirih tadi malam
Seiring kulai tubuh melemas ke tanah
Mimpiku terulang lagi, kawan…
Rekaman lama yang mulai mengering
Membayang nyata di rinai ufuk pagi
Merentang cerita usang titisan prasejarah
Dia mati tertembak, kawan…
Di hulu ledak senapan negara
Di rumpun-rumpun karet yang menyengat
Di binar bimbang yang kecilkan harap
Namun, jangan menangis lagi Emak
Jangan menangis lagi Paman
Jangan menangis lagi Sobat
Sang Waktu teramat perkasa
Tempat berteduh meneduhkan hati yang terluka
Tenangkan jiwa terkapar fana
Di penghujung fajar yang menanti pagi
Emak, Paman, Sobat, tercinta
Sang Buwana Bhumi merapal cipta tiada tersisa
Tentang segala rupa, daya, dan tingkah
Juga, dengan siapa Dia boleh berdendang malam ini
Jakarta, 19 July 2008
Mengenang Sumiasih, Sugeng, dan Usep
Shony yang termenung kekal
May 16, 2008
Bukan pilihan terbaik memang
Tapi tiada hari lagi tuk kita bercanda
Tiada sentuhan lagi tuk kita rangkai di jemari
Tiada noktah janji lagi tuk penguat langkah
Tiada payung lagi tuk teduhkan hati yang semakin rapuh
Bukan pilihan terbaik memang
Binar senja telah redupkan makna lembayung
Bias kelam telah guyurkan hitam di pelipis harapan
Buram asa telah piaskan tapak-tapak kelana
Gelegar kawah langit telah runtuhkan nyali mayapada
Hentakkan gemuruh samudra menghempas bingkai mimpi-mimpi
Bukan pilihan terbaik memang
Sebab menara gading teramat enggan tuk bisikan cinta
Sebab emas permata lenyap dari ruang-ruang hati
Sebab kerudung jiwa terbakar bayang api kecemburuan
Sebab kias bijak tiada lagi jadi madah bertuah
Sebab bayang gulita menyergap setiap sukma
Bukan pilihan terbaik memang
Namun titah sang kuasa torehkan garis hidup
Pasrahkan hati di titik kekekalan sabda
Sucikan nurani di atas mezbah alam
Geishaku…
Kita telah memilih kodrad di simpang kenangan ini
Pilihan pahit di batas nadir, memang
Jakarta, 16 Mei 2008
ketika bahtraku terbelah berkeping
Puiihhhh…. telah lama benar tiada kunjungi dikau kekasihku. Maafkan aku sayang, kelana ini begitu panjang, sepanjang kenangan di ribuan samudra yang sentiasa membahana jiwaku. Kulihat ruang-ruangmu tetap setia seperti dulu… seperti dulu, ya benar, tiada berubah. Kesetiaan kekal tiada tanya.
Merah maron membias wajahku kekasih, ketika bersua dikau di pintu kamar ini. Terima kasih atas hangat selimut buat kita berdua. Aku khan selalu kembali ke peraduan kita, pada bilik-bilik hati penuh cinta dan kesetiaan tiada berkesudahan.
Jakarta, di detik pertama 17 Mei 2008
Shony - kelana yang gagal
July 4, 2007
CORETAN TERAKHIR
Kemanapun kata ini berlalu
Kutorehkan kilasan ini,
pada bilah yang tengah gundah di tengah rasa penuh asa
pada kalam yang hampir berakhir
di tepian malam dipenghujung masa
Malam telah larut memang,
bahkan fajar sebentar lagi membentang membias hari
beri pertanda waktuku tiba jua adanya
kembali pulang ke awal berpijak
Selamat tinggal kota kenangan,
khan kukenang dikau peneduh jiwa di ladang persemaian
tumbuhkan harap di tunas yang rindang
buhulkan kain pembawa karya
Utrecht, teman berkasih
kutitipkan jejak kenangan tertinggal
pertanda sejarah menggoreskan makna kata
di kehidupan seorang pengembara
Ukiran namamu, mengenang dikeabadian peradaban
Utrecht, 05 Juli 2007
Oudwijkerveld 65, Wilhelminapark, 01.22 (waktu londo)
Shony
Kerajaan Tanah Mori dan Peperangan Raja Mori (Raja Marunduh) melawan tentara Belanda
Sumber : Biro Infokom - Propinsi Sulawesi Tengah (http://infokom-sulteng.go.id/)
Dahulu kala, jauh sebelum Belanda masuk ke Tanah Mori, Tanah Mori terdiri dari berpuluh-puluh suku bangsa atau suku kecil yang tidak mempunyai raja tertentu. Tiap-tiap suku itu mempunyai Mokole tersendiri dan tiap-tiap Mokole tidak mau takluk satu sama lain (Mokole ialah organisasi pemerintahan dari satu suku yang dipimpin atau dikepalai oleh seorang kepala suku yang bergelar "Mokolempalui".
Dari sekian banyak suku-suku di tanah Mori itu, ada beberapa suku yang dianggap besar pengaruhnya dan luas wilayahnya, yakni: Suku Moleta bagian Mori atas, Suku Petasia dan Suku Lembo bagian Mori bawah, Suku Murungkuni, Suku Tovatu, dan Suku Musimbatu.
Oleh karena tidak ada raja yang mampu mempersatukan suku-suku atau Mokole-mokole itu, maka sering terjadi kekacauan dan selalu timbul peperangan antara satu Mokole dengan Mokole yang lain.
Oleh sebab itu, beberapa Mokole yang besar di Tanah Mori itu mengadakan musyawarah untuk mencari dan menentukan seorang raja sebagai Raja Tanah Mori, agar dapat mempersatukan suku-suku di Tanah Mori itu.
Setelah ada permufakatan dari beberapa Mokole yang besar itu maka ditulislah dua orang Penghulu (Penghulu disebut dengan gelar Mokolempalili) yang bernama: Tande Rumba-rumba dan Rarahake, untuk menghadap Datuk Palopo, guna menyampaikan dan membicarakan maksud-maksud tersebut di atas, serta mengadakan musyawarah bersama Datuk Palopo pada suatu saat yang dimufakati bersama oleh para Mokolempalili.
Pada suatu ketika, diadakanlah suatu pertemuan antara Mokolempalili-mokolempalili dengan Datuk Palopo. Dan sebagai hasil musyawarah, Datuk Palopo mengatakan, "Baiklah, ambillah saudara-saudara saya, Sungkawang dengan saudaranya yang bertempat tinggal di Desa Sokoiye, dekat danau Matane dan Pilewiti. Kemudian bawalah mereka ke negeri kamu di Tanah Mori" Ketika mereka sedang dalam perjalanan melewati siran tanah atau tanah perbatasan antara Palopo dan Tanah Mori, mereka mendengar suara burung berbunyi, "Meiki meiko, meiko - meiki".
Bunyi burung itu diartikan oleh mereka bahwa tanah Meiki (nama sebuah desa) ini baik ditempati oleh seorang Mokolempalili. Oleh sebab itu, maka saudara dari Sungkawawo ditempatkan di Tanah Meiki untuk menjadi "Karua" (Karua ialah gelar sebagai Mokolempalili). Sedangkan Sungkawawo dan Pilewiti masih meneruskan perjalanan sampai di Tanah Mata Wundula; karena telah dimufakati oleh para Mokolempalili bahwa Sungkawawo dijadikan raja Mori, yang berkedudukan di Tanah Mata Wundula. Selanjutnya, Pilewiti meneruskan perjalanan. Karena demikian lama menempuh perjalanan yang begitu jauh, maka Pilewiti merasa sangat lelah lalu berhenti pada suatu tempat dan berkata, "Yaku tojomo", artinya, "Saya sudah lelah". Oleh karena itu, maka tanah tempat perhentian Pilewiti dinamakan Tanah Tojo dan Pilewiti lah yang menjadi raja di Tanah Tojo. (Berdasarkan cerita Raja Pileweti sebagai Raja Tanah Tojo, maka tanah pesisir Timur dari Kabupaten Poso menjadi satu kecamatan yang dinamakan Kecamatan Tojo).
Semula Tanah Tojo itu menjadi termasuk wilayah Kerajaan Tanah Mori dan sebelumnya menjadi bagian wilayah Kerajaan Luwu di bawah perintah Datuk Palopo.
Setelah tanah Mori mempunyai seorang raja tertentu maka diaturlah pembagian wilayah pemerintahan tiap-tiap Mokole, yang dikepalai oleh Cara Mokolempalili, sehingga dengan mudah pula diatur penyelesaian Upeti atau Pajak kepada Raja Mori dan lain-lain. Dengan demikian maka tiap Mokolempalili pada setiap tahun membawa Upeti kepada Raja Sungkawawo.
Dari beberapa Mokolempalili, antara lain Mokolempalili dari Moleo’a membawa upeti kepada raja berupa satu bungkus beras putih yang dibungkus dengan pelepah pinang yang dalam bahasa mereka disebut "bungkusi" dan satu bungkus kecil atau satu botol saguer pahit yang disebut dalam bahasa Mori "Tutubaru’.
Demikianlah berlaku setiap tahunnya. Pada waktu itu kehidupan rakyat Mori aman dan tentram di bawah pemerintahan Raja induk Mori Sungkawawo. Kemudian dengan memperhatikan kehidupan rakyat yang semakin meningkat dan urusan-urusan atau kepentingan rakyat yang semakin banyak, terutama urusan keamanan, maka raja melantik seorang yang bergelar Bonto yang tugasnya sebagai penghubung antara raja dengan para Mokolempalili di Tanah Mori.
Setelah Raja Mori yang bernama Sungkawawo mangkat, maka ia digantikan putra Raja Sungkawawo yang bernama MARUNDUH. Di dalam istana raja ada dua orang kepercayaan Raja yang bernama Tanki dan Tapo, sebagai pembantu Raja dalam urusan-urusan pribadi Raja dengan tiap-tiap Mokole, yang biasanya diutus ke Mokole di Tanah Mori.
Tetapi lama kelamaan, kedua orang kepercayaan Raja itu banyak melakukan perbuatan yang melanggar hukum di Desa Meleoa’, sehingga banyak rakyat keberatan dengan Mokolempalili Meleoa’ yang tinggal di Desa Endemburate. Maka Mokolempalili di Moleoa’ memutuskan bahwa Tanki dan Tapo harus dibunuh. Putusan pembunuhan Tanki dan Tapo telah dilaksanakan. Dengan kematian dua orang tersebut, maka terjadilah perselisihan besar antara Raja dengan Mokolempalili Moleoa’ selama 8 (delapan) tahun sampai menjelang datangnya Belanda di Tanah Mori.
Dalam masa perselisihan besar antara Raja Mori Marunduh dengan Mokolempalili itu, maka pernah terjadi peristiwa perebutan kekuasaan Raja Marunduh oleh salah satu Mokolempalili yang dipimpin oleh seorang wanita cantik yang bernama Moleono bersama dengan beberapa orang Mokolempalili pengikut. Moleono adalah satu Mokolempalili yang cukup berwibawa dalam lingkungan beberapa Mokolempalili lainnya di Tanah Mori.
Moleono yang didukung oleh beberapa Mokolempalili sebagai pengikutnya, senantiasa berusaha menjatuhkan Marunduh sebagai Raja Mori.
Pada suatu saat, Moleono bersama pengikut-pengikutnya menggunakan kesempatan dengan cara membujuk beberapa Mokolempalili serta rakyat Petasia, supaya jangan lagi tunduk kepada Raja Marunduh, melainkan harus tunduk dan mengikuti Moleono yang bertekad menjadi Raja Mori. Beberapa Mokolempalili telah menyetujui keinginan Moleono dan mengikuti keinginan Moleono untuk menggantikan Marunduh sebagai raja Mori. Pada suatu saat, Moleono mulai mengatur siasat dengan memerintahkan kepada beberapa Mokolempalili, agar lesung-lesung tempat menumbuk padi kepunyaan Raja Marunduh diisi dengan kotoran kerbau.
Beberapa Mokolempalili dengan segera melaksanakan perintah Moleono, sehingga hampir semua lesung kepunyaan Raja Marunduh berisi kotoran kerbau. Tetapi pada saat itu Raja Marunduh belum berbuat apa-apa, selain mengatur siasat bersama beberapa Mokolempalili pendukungnya. Terlebih dahulu Raja Marunduh berusaha memperkuat benteng pada istananya dengan bantuan beberapa Mokolempalili yang tetap setia.
Maksud Raja Marunduh untuk memperkuat benteng istananya itu, adalah untuk memperkuat pertahanannya untuk menghadapi perlawanan akan dilakukan oleh Moleono dengan pengikut-pengikutnya.
Di samping melancarkan propaganda, Moleono adalah wanita cantik yang memiliki banyak ilmu gaib yang membuat ia berwibawa di kalangan rakyat dalam lingkungan beberapa Mokolempalili.
Kegiatan propaganda dan siasat-siasat serta usaha-usaha dari pihak Moleono, sebagian dapat dikatakan berhasil antara lain dengan banyaknya rakyat dalam lingkungan beberapa Mokolempalfli telah membawa upeti kepada Moleono. Rupanya semakin bertambah banyak rakyat yang takluk kepada Moleono. Dengan menggunakan kekuatan ilmu gaib serta dengan kecakapan dan kelihaiannya, Moleono dapat membingungkan orang lain dengan cara menipu pandangan mereka, sehingga dengan mudah orang-orang menjadi teperdaya dan merasa takut kepada Moleono.
Sekali peristiwa, Moleono menunjukkan kelihaiannya, yakni memasukan beberapa ekor kucing ke dalam sebuah keranjang besar, lalu digantungnya beberapa keranjang yang berisi beberapa ekor kucing itu di atas loteng rumah. Selain itu, ditangkapnya kunang-kunang banyak-banyak, lalu ditampungnya pada suatu kelambu yang sangat tipis, agar orang-orang yang melihat diwaktu malam bisa terheran. Dengan bunyi kucing-kucing dalam keranjang besar yang digantung di loteng, ditambah pula dengan cahaya kunang-kunang dalam kelambu di waktu malam, maka rakyat yang masih primitif pada zaman dahulu kala itu, menjadi teperdaya bercampur takut, sehingga mereka mengakui bahwa Moleono patut disembah sebagai raja.
Moleono dengan rambutnya yang sangat paniang itu, selalu berdaya upaya agar para Mokolempalili pengikut Raja Marunduh menjadi terpikat dan teperdaya, sehingga dengan mudah dikuasai agar dengan mudah pula Moleono menjalankan siasatnya untuk membunuh Raja Marunduh. Dan jika berhasil, maka Moleonolah yang akan menggantikannya. Tetapi Moleono belum mengetahui bahwa masih banyak Mokolempalili yang tidak setuju jika Moleono menjadi Raja Mori, karena masih banyak Mokolempalili yang memihak Marunduh sehingga Marunduh merasa lebih kuat daripada Moleono.
Suatu ketika, ada seorang pemuda yang gagah perkasa, bernama Titi yang berasal dari Mokole Moleoa’.
Titi adalah pendukung utama Marunduh; Titi berusaha mempertahankan dan membela Raja Marunduh dari serangan dan tipu daya Moleono yang hendak menggulingkan Marunduh sebagai Raja Mori.
Oleh karena itu Titi berdaya upaya-sampai berhasil membunuh Moleono. Suatu ketika, Titi mengetahui Moleono, wanita cantik itu, jatuh cinta kepadanya. Titi berpikir dan memperhitungkan, bahwa kalau benar Moleono mencintai Titi, maka Titi akan mudah menggunakan kesempatan untuk memikat dan menjalankan siasat hingga berhasil membunuh Moleono.
Suatu ketika, sebelum Titi pergi menemui Moleono, terlebih dahulu Titi pergi menemui Raja Marunduh untuk mempelajari situasi dan hal ihwal pihak Moleono bersama pengikut-pengikutnya, serta untuk mengatur siasat.
Dalam pembicaraun bersama Raja Marunduh, Titi berkata bahwa ia akan berangkat dengan membawa seorang temannya yang berjiwa kesatria bernama Tondolabu; dengan membawa senjata atau senapan yang dinamakan Banggobeno dan untuk menguji kekuatan Moleono, ia akan meletuskan senapan Banggobene itu satu kali, dan kalau benar bahwa Moleono adalah dewa, maka senjata itu setelah meletus akan menjadi hancur; tetapi kalau senjata itu tidak hancur, maka berarti Moleono bukan seorang dewa dan Titi akan pergi membunuh Moleono.
Titi seorang pemuda yang gagah perkasa, dihadapan Raja Marunduh telah menunjukkan sikap yang bersemangat dan jiwa yang berani meneruskan tekad serta daya juang pantang mundur menghadapi kekuatan Moleono bersama pengikut-pengikutnya. Sebejum berangkat, Titi terlebih dahulu mempersiapkan diri bersama temannya Tondolabu. Titi menguji senjatanya dengan mencoba meletuskan satu kali, ternyata senjata Banggobene itu tetap seperti biasa. Lalu berangkatlah Titi dengan Tondolabu menuju tempat di mana Moleono berada bersama pengikut-pengikutnya.
Tatkala Titi bersama Tondolabu telah sampai di dekat rumah Moleono, Titi dengan segera memerintahkan kepada Tondolabu supaya dengan cepat naik ke loteng rumah Moleono untuk membunuh kucing-kucing dalam keranjang yang tergantun di loteng dan melepaskan semua kunang-kunang yang terkurung dalam kelambu, sedangkan Titi sendiri langsung masuk menemui Moleono. Setibanya dalam rumah Moleono, Titi disambut dan diterima oleh Moleono dengan ramah sekali, karena Moleono memang jatuh cinta kepada pemuda Titi.
Sebagaimana adat kebiasaan dalam menyambut tamu, pertama-tama tamu disambut dengan suguhan sirih dalam dulang kecil. Sementara makan sirih, kesempatan ini dipergunakan oleh Titi, dengan cepat dan dengan cekatan Titi langsung memegang kuat-kuat rambut Moleono yang panjang itu, lalu dipancungnya Moleono hingga tidak berdaya. Dan pada saat itu juga kucing-kucing dan kunang-kunang telah dilepaskan serta dibunuh Tondolabu.
Seketika itu juga, Titi bersama temannya, Tandolabu, segera pergi kembali ke istana Raja, Mori, Marunduh. Setelah Titi bersama Tondolabu tiba dengan selamat di tempat istana Raja Mori, Marunduh, mereka dengan segera pergi mengeluarkan semua kotoran kerbau yang berada dalam lesung-lesung kepunyaan Raja Marunduh, sampai bersih lesung-lesung itu sebagaimana keadaannya semula.
Dengan demikian, Titi berhasil menggagalkan usaha Moleono kekuasaan Raja Mori Marunduh, sehingga kekuasaan Marunduh sebagai Raja Mori, tetap dengan utuhnya.
Peperangan raja Mori Marunduh Melawan Tentara Kompeni Belanda. Beberapa saat kemudian, Kompeni Belanda telah masuk ke daerah Poso dan menjelajahi wilayah Daerah Poso sampai di wilayah Tanah Mori.
Pada suatu ketika, datanglah ke Tanah Mori Tuan Nayoan bersama-sama dengan dua regu tentara Kompeni Belanda yang dipimpin oleh seorang Letnan sebagai Komandan, yang bertolak dari Poso. Rombongan Tuan Nayoan bersama Letnan Belanda itu, setelah tiba di salah satu tempat Mokelempalili di Tanah Mori, maka mereka mengajak seorang Mokolempalili bernama Papa Lantiuna untuk mengadakan pertemuan dengan Raja Mori, Marunduh, yang berkedudukan di wilayah Tanah Mori Bawah yang disebut Petasia, yakni desa Mata Fundula. Dalam pertemuan itu, Tuan Nayoan mengingatkan supaya Marunduh dan para Mokolempalili jangan mengadakan perlawanan terhadap Kompeni Belanda, karena Belanda tidak bermaksud membunuh orang, tetapi akan memberikan perlindungan kepada rakyat demi kelangsungan hidup mereka dan karena itu, janganlah takut kepada Kompeni Belanda.
Tuan Nayoan mengajak Papa Lantiuna dan tampaknya Mokolempalili Milea’ menuruti dan menyetujui maksud Tuan Nayoan bersama Kompeni Belanda untuk membicarakan hal perdamaian dengan Raja Mori, Marunduh.
Setelah mereka bertemu, semula nampaknya Raja Marunduh agak takut karena merasa ragu akan maksud mereka. Tetapi Tuan Nayoan dan Papa Lantiuna menjelaskan maksud mereka kepada raja Mori sehingga Raja Marunduh akhirnya dapat memahami tanpa rasa takut lagi. Di samping itu Tuan Nayoan bersama Tentara Kompeni Belanda yang dipimpin oleh Tuan Letnan, ingin sekali melihat Permaisuri Raja Marunduh, karena selama tujuh hari mereka tinggal di Mata Fundula tidak pernah melihat Permaisuri Raja Marunduh. Sehingga Tuan Nayoan dan Tuan Letnan meminta kepada Raja Marunduh memanggil permaisurinya. Ketika Permaisuri Raja yang bernama Jelaina, keluar dan bertemu dengan Tuan Nayoan bersama Tuan Letnan, mereka saling berkenalan dan bedabat tangan.
Raja Mori, tatkala melihat permaisurinya berjabatan tangan dengan Tuan Letnan. dan Tuan Nayoan nampak merasa tidak senang. Raja Mori memang merasa tidak senang melihat permaisurinya dipegang-pegang orang pada saat berjabatan tangan, kecuali hanya sekedar berjabatan tangan saja.
Di samping itu raja Mori merasa curiga dan ragu, karena mungkin kesempatan berjabatan tangan itu mereka gunakan sebagai siasat dengan maksud-maksud lain. Mungkin memancing perasaan Raja atau mungkin pula sebagai siasat untuk melemahkan sifat keras dari Raja Mori terhadap mereka melalui permaisuri. Karena Permaisuri telah berkenalan dengan mereka sehingga Permaisuri dapat mempengaruhi Raja Marunduh agar Raja Marunduh tidak menentang tentara Kompeni Belanda.
Itulah sebabnya Raja Marunduh semakin merasa tidak senang bilamana berjumpa dengan Tentara Kompeni Belanda; dan pula sebabnya, sehingga Raja Marunduh tidak bersedia melanjutkan pertemuan dengan Tuan Nayoan Tuan Letnan yang bermaksud mengadakan perdamaian. Dengan begitu berarti Raja Marunduh tidak bersedia mengadakan perdamaian dengan Tentara Kompeni Belanda.
Dalam usaha mengatasi keadaan yang gawat itu, segera Raja Marunduh mengadakan rapat dengan beberapa Mokolempalili yang kuat. Dalam hal ini Papa Lantiuna, termasuk kelompok Mokolempalili Moleoa Keputusan rapat dengan tegas dinyatakan oleh Raja Marunduh, "Bahwa Tentara Kompeni Belanda harus dibunuh sampai habis dari tanah Mori". Keputusan Raja Marunduh yang demikian tegas itu disetujui oleh para Mokolempalili.
Dalam usaha pelaksanaan perlawanan terhadap Tentara Kompeni Belanda, maka Raja Mori Marunduh bersama para Mokolempalili yang kuat, mulai mengatur posisi. Beberapa Mokolempalili memperhatikan bahwa sebagian Tentara Kompeni Belanda masih ada di Mata Fundula dan sebagian lagi kembali ke Moleoa. Beberapa saat kemudian, Raja Marunduh memerintahkan Papa Lantiuna supaya tentara Kompeni Belanda yang menuju ke Moleoa harus dibunuh. Dan Tentara Belanda yang tinggal di Mata fundula, Raja Marunduh yang akan membunuhnya.
Selanjutnya Raja Marunduh memerintahkan kepada para Mokolempalili, bahwa perlawanan harus dilaksanakan dengan serentak, pada hari yang sama, baik yang ada di Mata Fundula, di Moleoa serta yang ada di Petasia. Akan tetapi sebelum Tentara Kompeni Belanda kembali ke Moleoa, maka Papa Lantiuna bersama pengikutnya seorang juru bahasa laki-laki bernama Maradi terlebih dahulu pergi ke Kanta, tanpa melalui jalan ke jurusan Moleoa’. Papa Lantiuna bersama pengikut-pengikutnya tinggal di Kanta selama beberapa hari. Kemudian Tuan Letnan bersama tentaranya menyusul ke Moleoa sedangkan Tuan Nayoan telah kembali ke Poso.
Tetapi rombongan Papa Lantiuna merasa tidak senang tinggal di Kanta, sehingga dalam waktu dekat mereka mencari tempat lain yang lebih baik. Mereka pergi ke Ranoitole dekat desa Korontaduha, yang kira-kira tiga kilometer jaraknya dari desa Tomata. Di sanalah mereka membuat asrama dan di sanalah Papa Lantiuna mengatur posisi perlawanan untuk melaksanakan perintah Raja Marunduh akan melakukan pembunuhan terhadap tentara Kompeni Belanda.
Papa Lantiuna bersama pengikutnya mengatur posisi perlawanan terhadap Tentara Belanda bertempat di Ranoitole, sebagai berikut:
- Papa Lantiuna memerintahkan kepada Rakyat, terutama pengikutnya, supaya mengumpulkan semua senjata pedang di suatu tempat tertentu.
- Supaya semua orang kuat tiap Mokolempalili terutama yang ada di Moleoa, segera berkumpul pada satu tempat di Ranoitole untuk mendengarkan perintah-perintah selanjutnya.
- Supaya tiap pasukan, harus ada satu sampai dua orang yang terkuat sebagai pengawal dengan membawa senjata pedang tajam.
- Di samping rakyat sibuk membersihkan perkampungan mereka, supaya makanan harus diatur dengan sebaik-baiknya serta memotong babi sebagai persediaan makanan tersebut mereka selama mengadakan perlawanan di Ranoitole.
Beberapa saat kemudian, Papa Lantiuna pergi mematamatai keadaan Tentara Belanda; ternyata Tentara Belanda dalam keadaan lengah dan tidak mempunyai persangkaan apa-apa pada rakyat Mori.
Papa Lantiuna dengan segera mempergunakan kesempatan itu untuk mempersiapkan pasukannya lengkap dengan senjata, kemudian menyatakan komando serentak menyerang sekaligus membunuh Tentara Kompeni Belanda sampai habis semuanya. Pada saat berlangsungnya serangan perlawanan terhadap Tentara Kompeni Belanda, juru bahasa yang bernama Maradi melarikan diri sehingga ditangkap dan kemudian ditawan oleh Belanda di dekat Londi wilayah Kolonadale.
Juru bahasa yang bernama Maradi itu tidak dibunuh oleh Tentara Belanda. Kira-kira sebulan kemudian, Tentara Belanda datang ke Kolonadale untuk melakukan serangan pembalasan memerangi Raja Marunduh yang gigih mengadakan perlawanan di Fulanderi (Fulanderi terletak kira-kira sepululi kilometer jauhnya dari Desa Kolaka di wilayah Kolonadale yang dinamakan Tanah Mori Bawah, yang sekarang dinamakan Kecamatan Petasia).
Pada pertempuran di Fulanderi, banyak Tentara Kompeni Belanda yang tewas, sedangkan Raja Mori Marunduh sendiri selamat.
Menurut cerita beberapa orang tua yang sekarang masih hidup dan berada di Kecamatan Mori Atas, bahwa Raja Marunduh mempunyai kura-kura emas yang kecil sebagai azimatnya.
Akhirnya Tentara Kompeni Belanda mengetahui rahasia kura-kura emas sebagai azimat Raja Marunduh itu, maka Tentara Belanda mencari akal bagaimana caranya untuk dapat mengalahkan Raja Marunduh.
Pada suatu ketika, Tentara Belanda menemukan alat dan cara yang dapat mengalahkan kekuatan azimat Raja Marunduh Tentara Belanda mempersiapkan peluru emas sebanyak-banyaknya serta mempersiapkan beberapa pasukan khusus pembawa senjata yang berisi peluru emas yang dikerahkan untuk menyerang dan menembak Raja Marundub. Dalam waktu yang singkat, tepat pertahanan Raja Marunduh pada salah satu bukit di Fulanderi telah dapat diketahui dengan jelas oleh Tentara Belanda. Perlu dengan segera diatur pengepungan dan pasukan khusus dengan senjata berpeluru emas langsung dikerahkan menuju tempat pertahanan Raja Marunduh. Pada saat pasukan khusus Tentara Belanda melihat dengan jelas Raja Marunduh di tempat pertahanannya, maka pasukan khusus segera menggempur dan menembak langsung Raja Marunduh. Akhirnya Raja Marunduh pun telah tewas karena sasaran peluru emas. Di Fulanderi itulah, tempat Raja Marundub tewas dengan seorang kemenakannya yang bernama Lafolio.
Setelah Raja Marunduh tewas, maka datanglah ke Fulanderi, Tuan Nayoan bersama-sama dengan Tuan Letnan Tentara Belanda mencari Papa Lantiuna di Tobumpada, karena di situlah tempat Papa Lantiuna melarikan diri sewaktu Tentara Belanda menggempur Fulanderi; yang berarti Papa Lantiuna tidak turut serta mengikuti Raja Marunduh pada tempat pertahanan Raja Marunduh di Fulanderi, pada saat penggempuran terakhir dari Tentara Belanda.
Sebelum Tuan Letnan menemukan Papa Lantiuna, maka terlebih dahulu Tuan Nayoan menemui Papa Lantiuna, dengan maksud memberitahukan tentang apa-apa yang harus dikerjakan kalau Tuan Letnan Tentara Belanda telah menemukan Papa Lantiuna di Tobumpada.
Tatkala Tuan Letnan Tentara Belanda telah tiba di Tobumpada, maka Papa Lantiuna dengan cepat menyambut dan memeluk kaki Tuan Letnan seraya mencium ujung sepatu Tuan Letnan dengan ucapan minta ampun.
Kemudian tibalah saatnya Papa Lantiuna diperiksa oleh Tuan Letnan yang didampingi oleh Tuan Nayoan. Pada saat dilakukan pemeriksaan, maka Tuan Letnan mengajukan beberapa pertanyaan, sebagai berikut
- Apa sebabnya engkau membunuh tentara Belanda?
- Apakah engkau mampu mengumpulkan tulang betulang Tentara Belanda yang telah dibunuh itu?
- Apakah engkau mampu mengumpulkan semua senjata Tentara Belanda yang telah terbunuh itu?
Kemudian Papa Lantiuna menjawab sebagai berikut.
- Saya membunuh Tentara Belanda atas perintah Raja Marunduh. Karena Marunduh maka saya sendiri yang akan dibunuh.
- Saya sanggup mengumpulkan semua tulang belulang Tentara Belanda yang telah terbunuh.
- Saya mengaku, bahwa saya sanggup mengumpulkan semua senjata Tentara Belanda yang telah terbunuh itu.
Dengan jawaban dari Papa Lantiuna itu, maka Tuan Letnan berkata, ‘Hiduplah engkau!". Dan pada saat itu juga, Papa Lantiuna telah menunjukkan kesanggupan atau kemampuannya dalam memenuhi perintah Tuan Letnan Tentara Belanda.
Papa Lantiuna adalah salah seorang Mokolempalili di Tanah Mori yang besar pengaruh dan wibawanya dalam lingkungan rakyat di Tanah Mori. Oleh karena itu orang-orang atau sebagian besar rakyat di Tanah Mori, taat melaksanakan perintah-perintah dari Papa Lantiuna unluk mengumpulkan tulang belulang serta mengembalikan senjata-senjata tentara Belanda yang telah tewas itu.
Selanjutnya Tuan Letnan memerintahkan kepada Papa Lantiuna agar tiap orang sebagai penanggung yang kuat, harus membayar dua rupiah setengah sebagai denda. Kemudian Tuan Letnan memerintahkan pula kepada Papa Lantiuna agar segera diatur rakyat dari tiap-tiap suku di Tanah Mori untuk membuka kembali perkampungan-perkampungan, dimulai dari Kolonadale dan seterusnya dalam lingkungan Tanah Mori.
Selanjutnya Tuan Letnan memerintahkan lagi kepada Papa Lantiuna agar tulang belulang atau tengkorak Tentara Belanda yang telah tewas dalam pertempuran, segera dibawa oleh rakyat Suku Mori yang akan membuka perkampungan di Kolonadale dan menguburkannya kembali di Kolonadale.
Sampai sekarang ini, kuburan tulang belulang dan tengkorak Tentara Belanda serta merta orang-orang suku Mori yang telah tewas dalam pertempuran, masih ada tetap terpelihara dengan baik di Kolonadale.
Selain itu Papa Lantiuna mendapat perintah lagi agar rakyat Mori melaksanakan pembuatan jalan dan pembukaan perkampungan secara teratur serta mengatur perpindahan penduduk dari tiap-tiap suku di Tanah Mori itu ke kampung-kampung atau desa-desa yang baru dibuka juga supaya rakyat hidup membuka persawahan untuk menjamin kelangsungan hidup mereka bersama keluarganya.
Papa Lantiuna berhasil melaksanakan dan membuktikan kemampuannya sebagai seorang pemimpin, seorang Mokolempalili yang sangat besar pengaruh dan wibawanya dalam lingkungan rakyat di seluruh wilayah Tanah Mori.
Mengenai pengantaran perpindahan penduduk dari tiap-tiap suku di Tanah Mori, Papa Lantiuna mengatumya sebagai berikut:
- Suku Moleoa’ yang tinggal di gunung-gunung seperti dari Sungke Lemba dipindahkan pada tanah rata di Desa atau Kampung Kasingoli dan Korokonta
- Suku dari Tavaangoli dipindahkan pada desa atau Kampung Tanah Sumpu dan di Korolemo
- Suku dari Desa Lemborori dipindahkan di desa Tepaku
- Suku dari Desa Tanjongkuni dipindahkan di Desa Londi
- Suku dari Salemboi dipindahkan di Desa Taendeh
- Suku dari Desa Wana dipindahkan di Desa Ensah
- Suku dari Ndointobu dipindahkan di Desa Kolaka
- Suku dari Desa Endemborate dipindahkan di Desa Tomata (Tomata sebagai tempat kedudukan ibu kota wilayah Kecamatan Tanah Mori Atas sekarang ini)
- Suku-suku lainnya diperintahkan mencari dan mengatur tempat perkampungan masing-masing yang mereka senangi keadaan alamnya.
Dengan perpindahan Suku-suku di Tanah Mori sebagai mana disebut diatas, maka terbentuklah organisasi Pemerintahan Kesatuan Desa dari suku-suku tersebut, menjadi satu nama suku, yaitu Suku Mori dan satu nama kesatuan daerah, yakni Tanah Mori.
Perlu diketahui, bahwa Tanah Mori adalah daerah yang terluas wilayahnya dalam lingkungan Kabupaten Poso, yang sekarang ini terbagi menjadi tiga wilayah Kabupaten, yakni:
- Wilayah Kecamatan Mori Atas, ibu kota Tomata
- Wilayah Kecamatan Petasia, ibu kota Kolonadale
- Wilayah Kecainatan Lembo, ibu kotanya Beteleme; yang dikenal pula dengan nama sebelumnya: Tanah Mori Bawah.
Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490
Diupdate Oleh: Thony Irawanto, Sabtu 24 Juli 2004 (9288)
Aku Kehilangan
Tux pagi pembawa cinta nestapa
Pada aksara dan rupa aku mengadu
Burung merpatiku bawakan berita sedih
Damba dan harapku mengharu biru
Lenyap tak berbekas sisakan perih
Jauh sudah mimpiku meninggalkan aku
Jejak langkahnya tiada berbekas
Renggut semua indah khayalanku
Aku hanya termangu yang tiada berbatas
Wahai sang kekasih…
Pernahkah kau peduli pada keperihan hati ini?
Pernahkah kau peduli pada hancurnya harap ini?
Pernahkah kau peduli pada semua ini?
Aku tidak akan pernah melupakan pagi ini
Meskipun pahit, aku harus terima…
Anna in Sad City
July 1, 2007

PECINTA DI DONGENG NAN NYATA
Oleh : Winarsih. L.
Tux dia di bayang lautan…
Cintaku kepadamu telah membuatku tegar tuk menjalani hidup yang penuh goda dan cobaan
Tanpamu, kelana jadi bagian asaku tiada tentu arah di puing-puing kehidupan
Diriku yang dulu penuh dengan canda-ceria bersamamu
Kini serasa ku’tlah asing tak kukenal bagi diriku sendiri…
Karena cintamu aku telah berpisah dengan masa laluku
Betapa besarnya rasa rinduku padamu kasih….
Yang mampu menahanku tuk berpaling dari cintamu
Gairah hidupku yang mengalirkan keberanian dalam diriku Untuk menepis semua godaan itu.
Kekasihku,
Aku selalu mencari dan terus mencarimu dalam keberadaan diriku yang terdalam
Tak terasa berjuta tahun kita telah terpisah oleh jarak, ruang dan waktu
Terhempas di bentangan benua, hamparan lautan berlaksa ribuan mil mata memandang
Kujalani hari-hariku tanpa dirimu disisiku Namun kekuatan cinta kita telah memberiku kekuatan lebih dalam mengarungi rasa sepiku; walau sesulit apapun jua rintangan itu ku’kan tetap menjaga kesetiaanku padamu hingga nanti kita kan dipersatukan kembali. Dahulu sudah sering kali ku membaca dongeng-dongeng tentang cinta, kini akupun telah menjadi pencinta dalam dongeng nan nyata itu. Akhirnya hanya doa yang dapat kumohonkan untukmu agar kaupun di sana juga tabah dan sabar menjalani kenyaatan ini walau tanpaku di sisimu duhai kekasihku…
(Ungkapan rasa ini kupersembahkan buat seseorang yg tengah menempuh study di Utrecht - the Netherlands, special for my lovely one. Ketahuilah selalu, di sini ku’kan tetap menanti dikau kembali tiada bertepi.)
Pekanbaru, 1 Juli 2007
Ling
June 18, 2007
Hari ini, tepat pukul 15.39 waktu Londo (Utrecht), tugas akhir berupa thesis untuk studi master saya sudah dikirim. Itu artinya, tugas telah tuntas dilunaskan. Terima kasih atas doá, dukungan, canda dan keprihatinan yang ditumpahkan oleh semua kekasih hati yang telah bersama menjelajahi pendakian terjal beronak.
Ibunda dan adik-adik tercinta di halaman jauh, yang senantiasa mengenang bagian dari hidup masa kanak-kanak, tetap berdoá dalam suka cita dan kealpaan diri dari pandangan mata mereka.
Istri kekasih hatiku, Ibunda anak-anak, terima kasih atas sengsara yang ditanggung sebatang kara selama masa pahit dipenantian panjang. Cinta telah menjawab segalanya, dan akan tetap di sana hingga pucuk cemara sirnah berguguran ditelan zaman.
Anak-anak yang sentiasa bertanya kapan pulang. Kembali ke awal langkah adalah suatu kepastian, tiada keraguan akan semua itu. Tugasmu wahai ananda semua, beri makna pada langkah panjang yang telah Ayahmu lakukan, tuk cermin hidup bila itu boleh berarti pada jelajah masa depanmu.
Kekasih-kekasih kelana, bagian tiada terpisahkan dari petualangan tiada berkesudahan meniti potongan sejarah di kerasnya hempasan samudra impian. Dan raut senyum menawan menyejukkan hati, yang telah bawa sepotong mercu suar, akan selalu jadi untaian mahkota di sepanjang titian hidup hingga ke akhir waktuku.
Sahabat sepermainan – sepengasingan, itu kelompok murai, teman menghempaskan batu-batu cadas penghalang di liku-liku jalanan panjang perantauan.
Pada mayapada semua khan terpulang.
Utrecht, 18 Juni 2007
Shony
June 10, 2007
Merindu Mentari
Buat: Segala mahluk yang bertelinga
Pada lintasan gerak waktu ini, aku merindu
Merindumu dengan amat perih
Perih menyayat hati
Hati yang hampir pada kematian
Mati merana tiada bersua sang dambaan jiwa
Aku merindumu, wahai matahariku
Engkau yang tiada pernah berdusta
Yang sentiasa menggenapi janji-janji
Terbit di Timur dipagi hari, tanpa terlambat senoktahpun jua
Kembali keharibaan di Barat pada waktu yang tepat
Aku merindumu, wahai matahariku
Engkau yang tiada pernah pilih kasih
Yang sentiasa beri sinar dan terang pada semua kelana
Selimut kehangatan pada si kaya dan si miskin
Beri cahaya yang sama pada kurun tiada berbeda bagi semua mahluk
Aku merindumu, wahai matahariku
Engkau yang kokoh teguh bijak mandiri bestari
Yang sentiasa tiada tergoda oleh apapun jua
Tiada butuh sesembahan untuk mendapatkan senyumnya
Dan tiada sanggup dunia tuk menolak amarahnya
Aku merindumu, wahai matahariku
Walau kutahu, engkau khan datang terlambat ke pemakaman jasadku.***
Utrecht, 10 Juni 2007
Wilson Lalengke – The Netherlands
May 1, 2007
TITIPAN SEORANG GEISHA
Tux: semua orang di episode masing masing
Tuhan, pada kesalahan kata-kata
Pada emosi di luar batas
Pada posisi diri yang hilang sesaat
Pada kesamaan darah yang bertengkar hebat
Pada pengertian yang silang arah sesaat
Sesudahnya kusebut namaMu
Sesudahnya bagaimana Tuhan….
Dan Kau pun Hilang Dalam Mimpi Itu
Semalam aku memimpikanmu
menangisi kegagalan kisah yang dulu
yang menunnjukkan habis sudah semuanya
wajahmu, senyummu, tanganmu yang mengajakku pergi
sudah tak berlaku lagi
pecah semua gambaran itu
kau tertawa renyah
menggandengku menuju duniamu
dan aku hanya diam mengikutimu perlahan
dari jauh
tanpa lelah tersenyum
kau kenalkan aku kepada orang-orang
yang semuanya menegaskan sayangnya
kita berpisah
-aku tetap tanpa geming-
ada juga sedih terselip
seperti daun pisang dipatahkan angin
dan kau pun hilang
bahkan dalam mimpi itu
tinggal aku bersama orang-orang asing
tertawa dalam sakit
dan kau pun hilang
tetap dalam senyum
Lelaki yang kasmaran
hatinya tak tergenggam lagi
berenang ke dalam telaga keindahan
Telinganya tertutup
dan bibirnya tersenyum
"Aku ingin memelukmu,
menyayangimu setiap waktu"
Kata-kata telanjang dalam kepalanya
pikiran yang rumit sirna
menjadi dunia tanpa rupa
hari-hari menjadi jalan yang menggelisahkan
ketidakpastian menjadi tema pikiran
Lelaki yang kasmaran
janganlah ia dibantah sayang
sebab, dewa sekalipun pasti dilawanya
Pertemuan dengan yang terkasih
adalah doa yang dilafazkan
dalam diam, dalam nafas, dalam gerak
"Aku akan membuatmu bahagia, duhai kecintaanku."
Lelaki yang kasamaran
memasrahkan dirinya pada getaran
yang terasa sesak sekaligus menyenangkan
pada kekhawatiran yang mengganggu
tapi menggelorakan
Biarkanlah,
jangan usik kebahagiaannya
jangan tenangkan gelisahnya
dia sedang terbakar api
yang dulu membakar Ibrahim
Di langit
mendung menggantung
melambai-lambai
dengan kesedihan di tiap ruas jalan
Aku bergidik sepi
Membayangkan kamu sudah pergi
Tak pernah terbayangkan
sedihnya begini
melihatmu pergi
Aku ingin mengejarmu
ingin berkata jangan
Mulutku terkunci
kakiku terkunci
Aku hanya bisa memandangimu
Sampai kamu tak terlihat lagi
Tapi di hatiku
Aku masih melihatmu
Setiap jalanan begitu kosong
seperti satu kota hilang isi
Pagi
Pagi
Pagi
pagi menjelang
mendung datang
dan di jembatan Macan
kau menghilang
Geisha at the Far East, Urawa
a moment of tearing
April 28, 2007
MALAM TERAKHIR DI SINI
Kenangan di Baden-Powellweg
Bukan
Bukan yang pertama
Juga bukan yang terakhir kalinya kita bersua
Tapi kenangannya akan segera berubah
Bukan
Bukan milikku kuasa itu
Juga tidak dalam rentang buaian di sisik suratan
Tapi kelana memang harus tetap berlalu
Bukan
Bukan dia yang telah menjelma dalam khayal
Juga sirnah di penghujung persimpangan
Tapi meratap sentiasa khan jadi cerita
Di sini aku mengisi sedikit hari-hariku
Melantunkan melodi kehidupan yang penuh bayangan asa
Merenda malam bersama bintang di mimpi-mimpi
Merangkai kata di pelataran kenangan
Bila akhirnya khan datang jua adanya
Itu kalam yang menjadi nyata
Biarlah semua khan beriring ke peraduan kembara
Berlayar ke ujung titian berlabuh
Hingga jingga meredup kelamkan mayapada
Utrecht, 29 April 2007, 00:40
Baden-Powellweg 133 k-3
Catatan terakhir di malam penghabisan
Shony
April 14, 2007
Mengapa Aku Tidak Seperti Monyet…
Kupandangi gambar Yesus, orang Nazareth itu
Terbias tanya, mengapa Dia tidak berkulit hitam?
Kutatap patung Buddha, yang senyum penuh arti
Tanyaku terlontar lagi, mengapa Buddha lahir di India?
Ku dengar kisah Muhammad, penguasa padang pasir jazirah Arab
Mengapa Engkau dipilih “tuhan”?
Kulihat merpati di taman-taman
Mengapa engkau jadi merpati?
Kulihat pohon dan batu karang
Mengapa engkau jadi pohon dan engkau yang lain batu karang?
Mengapa engkau yang menjadi laut dan sungai?
Mengapa engkau yang menjadi matahari dan bulan?
Mengapa engkau yang menjadi siang dan malam?
Mengapa dan mengapa?
Aku bertanya padamu wahai sang “tuhan”
Mengapa aku tidak dilahirkan sebagai Yesus?
Mengapa aku tidak dilahirkan sebagai Buddha?
Mengapa aku tidak dilahirkan sebagai Muhammad?
Mengapa aku tidak dilahirkan Plato?
Mengapa aku tidak dilahirkan sebagai Blair atau Bush?
Mengapa aku tidak dilahirkan sebagai Saddam?
Mengapa aku tidak dilahirkan sebagai Suharto?
Mengapa aku tidak dilahirkan berkulit putih?
Mengapa aku tidak dilahirkan berkulit merah? Hitam? Kuning? Coklat? Atau bening?
Mengapa aku tidak dimunculkan ke dunia sebagai batu? Sebagai air? Sebagai angin?
Mengapa aku tidak dimunculkan ke dunia sebagai pohon?
Mengapa aku tidak dilahirkan sebagai monyet?
Mengapa dan mengapa?
Sebab bila aku sebagai Yesus, aku tidak ingin mati dan naik ke surga
Sebab bila aku sebagai Buddha, aku tidak ingin tinggal di hutan
Sebab bila aku sebagai Muhammad, aku tidak ingin membual tentang perintah “tuhan”
Sebab bila aku sebagai Plato, aku tidak ingin berhayal-hayal
Bila aku jadi Blair,
Bila aku jadi Saddam,
Bila aku jadi Suharto,
Bila aku berkulit putih
Berkulit merah, hitam, kuning, coklat, bening atau tidak berkulit sama sekali
Bila aku jadi batu, pohon dan angin
Aku tidak ingin menjadi monyet
Tapi aku ingin menjadi Tuhan…!!!
Semua yang di bumi kuciptakan sebagai orang kaya
Semua yang di udara kuciptakan sebagai orang kaya
Semua yang di dasar laut kuciptakan sebagai orang kaya
Semua yang hitam, putih, coklat, merah dan seterusnya menjadi orang kaya
Semua benda mati menjadi orang kaya
Semua planet menjadi orang kaya
Semua dan semuanya menjadi orang kaya
Termasuk saya, sang Tuhan, jadi orang kaya
Agar tiada kebencian, kedengkian, penindasan, dan pembunuhan di antara mereka…
Begitukah?***
Utrecht, 14 April 2007
Shony
*..melihat dunia yang semakin gila..*
March 22, 2007
DIA SAHABATKU, JUGA ISTRIKU…
Tux: Nama dalam Bayangan
Namanya Winarsih. Wanita Jawa yang disapa “Wiwin” oleh teman-teman dan keluarganya. Saya mengenalnya lima belas tahun lampau saat dia memasuki masa sekolah menengah di kota saya, Pekanbaru, Riau. Usia kami terpaut sepuluh tahun. Dia lebih muda dari saya. Singkat cerita, saya menikahinya tiga tahun setelah perkenalan itu, pada saat dia telah menyelesaikan SMA-nya. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari sosok Wiwin karena memang hampir tidak ada yang dapat dikategorikan “luar biasa” dari dirinya. Juga penampilan kehidupan kesehariannya biasa saja.
Namun bagi saya, barangkali menceritakan siapa dan bagaimana Wiwin, walau akan agak subyektif, menjadi suatu yang lebih pas terutama karena saya benar-benar mengenalnya luar dalam dibandingkan dengan orang lain lagi. Wiwin sederhana. Itulah kesan pertama yang boleh saya ungkapkan. Terlahir dari keluarga suku Jawa, Blitar. Dia ikut orang tuanya merantau ke Riau dan menetap di daerah transmigrasi di Sungai Pagar – sekitar 75 kilometer dari Pekanbaru. Dalam perkembangan berikutnya selama bertransmigrasi, keluarganya boleh dikelompokkan berhasil dengan peningkatan penghidupan yang lumayan cemerlang. Dengan ini, akhirnya saya ingin mengatakan sesungguhnya saya “risih” dan minder untuk mempersuntingnya saat itu berhubung keadaan ekonomi saya sebagai perantau “modal dengkul” ke Riau yang hanya punya dua-tiga pasang pakaian dan tidak memiliki tempat tinggal tetap.
Tetapi Wiwin menerima saya apa adanya. Seakan memasuki sebuah pertemanan saja yang tidak perlu “milih-milih” karena konsekwensi berteman tidaklah serumit berumah-tangga. Idealisme saya cukup kuat untuk tidak menggantungkan nasib dan kehidupan rumah tangga dari orang lain, termasuk dari mertua. Dan untungnya Wiwin seide dengan prinsip ini, walau akhirnya kami berdua harus menyewa sebuah ruangan kecil berdinding papan “seberan” (papan buangan pabrik kayu) yang hanya layak untuk kandang sapi. Itulah tempat kami berdua diawal mengarungi rumah tangga. Wiwin tidak pernah mengeluh atas kondisi ini. Untungnya, orang tua Wiwin tidak mempermasalahkan keadaan anaknya yang akhirnya harus berurusan dengan kesulitan hidup keseharian karena memilih saya untuk teman hidupnya. Terkadang saya lihat ibunya hanya tersenyum prihatin saat menjenguk anaknya “di kandang sapi” gubuk berteduh kami. Cukup lama kami bertahan pada situasi ini. Walau kemudian pindah ke kontrakan lain, tapi karena kondisi keuangan yang tidak memadai, kami tetap saja harus rela tinggal di kos-kosan level “kandang sapi”.
Wiwin adalah seorang pembelajar yang tangguh. Di saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, Wiwin bersama teman-temannya harus menempuh jarak belasan kilometer bersepeda ke sekolah karena di desa transmigrasi tempat dia berdomisili tidak tersedia sekolah di jenjang tersebut. Tidak jarang dia juga harus berjalan kaki karena apes, sepeda mengalami kerusakan sementara bengkel dan toko tempat reparasi tidak tersedia. Tiga tahun kemudian setelah menamatkan SMP, Wiwin melanjutkan ke SMA tempat saya berkenalan dengannya. Secara jujur, prestasi belajarnya ada pada range rata-rata saja. Tidak ada yang terlalu istimewa. Walau begitu, dia sering menjadi andalan untuk mewakili sekolahnya pada event-event perlombaan memenuhi undangan dari penyelenggara.
Sesungguhnya, keunggulan kompetitif Wiwin hanya pada ketekunan dan keuletan semata. Saat kami sudah menikahpun, dia tetap ingin melanjutkan kuliah. Bisa dibayangkan bagaimana keras perjuangannya saat ekonomi kami masih pada kondisi “hari ini makan besok belum tentu”, dia tetap pada obsesi itu. Seingat saya, kami tidak pernah minta bantuan mertua untuk biaya kuliahnya hingga selesai. Penghargaan dan keyakinannya atas kemampuan saya dalam “ketidak-mampuan” finansial amat membesarkan hati saya. Perlu diinformasikan bahwa saat itu saya juga sedang kuliah menyelesaikan jenjang sarjana (S-1) sebagai kelanjutan dari program Diploma 2 yang saya selesaikan tujuh tahun sebelumnya. Wiwin tidak perduli dengan kesulitan nyata di hadapannya. Masalah tidak berhenti pada persoalan uang saja. Keteguhannya juga terlihat saat ia tetap bertahan kuliah walau sedang hamil besar. Hanya berselang sebulan setelah melahirkan, dia kembali ke kampus untuk belajar, untuk kemudian bergegas pulang menyusukan anaknya. Bahkan saat ujian mempertahankan skripsi dilakoninya dengan membawa perut besarnya, kehamilan anak kami yang ketiga, yang kemudian lahir beberapa bulan tidak lama setelah ujian tersebut.
Penampilannya sebagai gadis Jawa, dibesarkan dengan pola pendidikan desa yang penuh kultur ke-jawa-annya boleh jadi sesuatu yang menarik perhatian banyak orang. Tutur bahasanya, budi dan lakunya, senyum dan perhatian yang kuat pada sesama, dan sikap santun kesehariannya menjadikan Wiwin disenangi banyak teman, tetangga, dan gurunya. Pergaulan luwes penuh inisiatif dalam setiap kegiatan berkelompok menjadikannya selalu menjadi idola di sana. Pada banyak kesempatan dia juga berfungsi sebagai “pengayom” dan pemberi wejangan bagi teman-temannya, tempat “curhat” yang disenangi. Komitmen religiusitasnya juga tidak ketinggalan. Sebagai seorang muslimah, Wiwin taat beribadah dan melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan. Setidaknya, untuk ukuran rata-rata masyarakat sekitarnya, dia termasuk pada kelompok yang dapat dijadikan panutan.
Seperti halnya kehidupan banyak keluarga lainnya, persoalan di rumah tangga kami juga silih berganti datang. Dalam masalah ekonomi, jelas kemampuan Wiwin menetralkan situasi buruk sudah tergambar dari uraian di atas. Persoalan anak-anak dan pendidikan mereka, Wiwin, yang mengambil jurusan Biologi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau – Pekanbaru, dapat menjadi pembimbing, pembina, dan pendidik bagi mereka. Anak-anak boleh bertumbuh dengan baik di bawah asuhan ibunya setiap saat. Mungkin masuknya orang ketiga ke dalam hubungan suami-istri hampir selalu menjadi sumber petaka besar yang memporak-porandakan sebuah bahtera rumah tangga. Wiwin juga mampu dengan bijaksana mengeliminasi akibat buruk yang timbul dari persoalan ini.
Mencoba bersikap sebagai seorang yang jujur, saya pernah punya “selingkuhan”. Saya mengagumi wanita idaman lain (WIL), seorang gadis Batak yang amat baik, perhatian, tegas, dan cerdas. Membandingkan rupa dan kecantikan istri dengan WIL rasanya tidak relevan karena masing-masing memiliki daya tarik sendiri-sendiri. Namun, saya merasa punya ketergantungan pada WIL saya itu karena kecerdasannya yang “luar biasa” yang bisa mengantarkan saya seperti saat ini, sekali lagi seperti saat ini, bisa berada di luar negeri melanjutkan pendidikan di jenjang pascasarjana. Ketika Wiwin mengetahui hubungan gelap kami, dia memang terbawa emosi karena penghianatan pasangannya. Seperti umumnya semua wanita, dia marah besar. Namun itu tidak berlangsung lama, hanya berselang dua hari, dia menemukan ide untuk menyelesaikan konflik ini. Mudah saja, dia mendekati wanita “saingannya” itu dan berteman dengannya.
Itulah Winarsih, seorang wanita di kehidupan saya. Dia adalah adik, kakak, teman, guru, ibu, dan sekaligus sebagai istri bagi saya. Penjaga keutuhan dan keberlangsungan rumah tangga kami, dalam susah, gelisah, dan sukacita.***
Wilson Lalengke – The Netherlands
February 25, 2007
Additional idea for Van Delden thoughts about euthanasia
By Wilson Lalengke
The main notion in Velleman’s article regarding euthanasia is that he rejects the principle that a person has the right to live and die, in particular, by his own convictions by which life would be better for him; and thus he has the right to end his life on the grounds that it is no longer worth living. Instead of that, he proposes arguments primarily based on the values of the human being that are not relative to personal interest, such as dignity that should not defer to individual autonomy. He tends to support the thought of ending life developed from the idea of what is good for a person, which usually is worth caring about only out of concern for the person, though he is completely not sure how to create any justifiable way to do it – such as a justifiable moral ground of rules or laws on euthanasia.
Departing from this teaching, therefore, I think there should be a crucial revision on Van Delden’s work in regards implementing euthanasia; it is reconstruction upon the idea of individual autonomy. In my opinion, it seems that we adopt and put in wrong place about the widely known idea of autonomy which is between the right to live and the right to die. I tend to say that there are three fundamental phases in a person’s life, namely birth-time, live-time, and die-time. The first one is the event when someone appears to this world, comes up to a condition in which he will live. The second is the event when he spends the time in enjoying his life in a certain exact-period. The latter is the event when a person disappears from this world, comes down and gone passes-away forever.
In this perspective, I see that ‘being die’ only comparable (or contrastable) with ‘being alive’ or the birth-time; it is not between live and die. Thus, we might determine when is the time-line(s) or circumstance(s) for applying individual autonomy in appropriate way, which is the ‘right to born’, the ‘right to live’, and the ‘right to die’. It is certainly acceptable everywhere that a person does not have the right to born (this right to born will be more accurately if we take into account of the right to be created through procreation term; it is absolutely no body has this right), though he or she might have the right to live in term of earning, enjoying, and managing his live based on the individual autonomy. Because one has no such right – included autonomy – to born, it is also therefore that he has no such right to die, included the autonomy to determine how he will die.
As a consequence of this, people might adopt what they did for someone in his birth-time and apply it when he faces the die-time; it is ‘help’. Helping people to born is absolutely important and always in full of compassion, love, and sincerity. So, when we should help somebody to die, it must be in the same criteria: full of compassion, love, and sincerity as well. Beside that, the way of ‘helping’ both in the birth-time and die-time also should be concern to the ethical ways which is full of tenderness and care. The respect of dignity of a person is enshrined in the action on how people treat the patient during his way to the end of his life. If they do through the harsh way as they kill animals, then it is wrong because of lack respect to human dignity. In this case I tend to support the terms of human dignity in connection with the action or treatment from one to another. Dignity will only destructed by the action, not by the result. My dignity will not reduce when I am poor as a result of government bad-policy, but it is violated in conjunction with the bad-policy itself. If the policy is good but I am still poor or even becomes worse, then is there any reducing of dignity?
Based on this notion, a state can create a certain rules to regulate the way on how physicians should thread the patient in positive attitude and good manner in connection with ‘helping’ ending patient’s life. This act will also important to protect some misbehavior of the citizen in using euthanasia for killing other based on certain interest, far from compassion, love, and sincerity. And as the last point, since both right to born and right to die are not inherent with anybody in the world, thus the idea of euthanasia could be applicable everywhere regardless any border of time and space.***
January 18, 2007
SAINTLOVER: Blog Tersayangku Ruang Peneduh Sukma…
Hari ini kusempatkan mampir menjengukmu. Lama benar tidak melihat sosok ruangmu. Merindukanmu adalah hal yang pasti. Kamarmu adalah satu-satunya tempatku membagi menumpahkan cerita penuh duka yang sentiasa melintas di pelataran kenangan suka cita selama perjalanan kembara ini; tanpa setitikpun nokta cemberut di alismu, engkau malah senantiasa merenda bibirmu dengan manis madu murni senyum bidadari. Sejak membangunmu di paruh waktu tahun yang barusan berlalu, engkau telah melakukan fungsi dalam banyak hal bagiku. Ketika ruang bumi telah begitu sempit oleh hiruk pikuk kehidupan dunia, aku boleh bertandang ke kamar ini dan memandangi setiap sudut kehidupan yang tersimpan rapi di sana. Ketika teriak sukma menggemuruh menahan badai himpitan persoalan di mayapada, aku kangen kamu dan segera seketika boleh memasuki ruang-ruang dan menelusuri dalam kilas balik hari-hariku. Engkau senantiasa setia walau hanya sekedar berbagi cerita tentang ruas-ruas waktu yang telah terlewati.
Hari ini kusempatkan mampir menatapmu. Engkau masih seperti kemarin saat terakhir kututup pintu kamarmu. Kunjungan hari ini kiranya jadi penanda waktu di tahun yang baru, medio Januari 2007. Agak terlambat memang, namun aku bangga karena engkau begitu setia dalam kepenuh-pengertianmu pada kelana pecundang sepertiku. Aku berterima kasih untuk semua kebaikan hatimu.
Hari ini kusempatkan mampir menikmati rautmu. Kebetulan semua tugas utamaku selama bertarung di gurun kota ini tuntas sudah. Essay terakhir, yang bicara soal keadilan dunia, baru saja melayang menjumpai sang profesor untuk dimintai pertanggung-jawaban kebenaran cerita di dalamnya. Walau begitu, aku masih harus segera bangun tuk menyelesaikan tugas-tugas lain yang masih tersisa.
Hari ini kusempatkan mampir menyapa binar di matamu. Cerah pagi ceria sentiasa menghias membias di bibir indahmu yang merona di gerbang pandangku. Aku selalu tersenyum bilapun lebih banyak senyum getirnya ketika kita larut dalam berjuta rasa menggayut masa di tapak-tapak jalan hidup ini. Engkau selalu setia merekamnya; ada luapan suka ketika hari telah berakhir, ada genangan telaga air mata kala hati terbenam di fatamorgana cinta, ada bayang hati pada impian yang tiada pernah berwujud, ada luapan keluh-kesah nurani, ada kenangan, ada impian, ada juga pemberontakan… Semuanya terabadikan pada lantun memory terselip di helai-helai jemari ruangmu, bertebaran di lantai dan dinding kamarmu. Rapi senantiasa tuk dikunjungi para musyafir mayawi, pengembara jiwa, pemerhati kehidupan, sahabat, pencinta hingga sang pemburu nafasku, dan tiada terlupakan jadi incaran para pengintai ragaku.
Saintlover kekasihku… Hari ini kusempatkan mampir di kamarmu menikmati canda dan genit mesramu hingga kantuk membayangi kelopak mataku penuh inspirasi bayang-bayang para kekasih yang semakin menjauh… semakin menjauh… semakin menjauh… menghilang.
Linkoping, 18 January 2007
Corridor 240 C.15, 02.30pm
Shony
*..ketika luka-luka-ku tertular kutu..*